Aplikasi untuk membuat website

Untuk membuat website, dibutuhkan tim yang terdiri dari :
1. divisi desain content
2. divisi web programer
3. divisi web design

divisi web content bertanggung jawab masalah struktur data dan isi website. biasanya divisi ini bisa diamanahkan kepada perwakilan dari klien, misalnya karyawan dari perusahaan yang memesan website.

divisi web programer adalah group atau seseorang yang bertugas menulis script dan desain database. untuk menjadi web programer minimal harus memahami : php, mysql, css, dan javascript.

divisi web designer adalah group atau seseorang yang bertanggung jawab dengan tampilan web. skill yang harus dikuasai adalah Adobe Photoshop, Macromedia Swish, css dan MS FrontPage.

Ke-3 divisi diatas bisa dikerjakan sendirian, tapi hanya untuk website yang tidak begitu kompleks dan waktu tidak begitu mendesak.

Kalo saya sendiri, untuk membuat website saya menggunakan aplikasi2 ini:
1. Adobe Photoshop
2. Macromedia Flash
3. Swish
4. PHP
5. mySQL
6. MS FrontPage

Updated: Januari 20, 2006 — 7:49 pm

11 Comments

Add a Comment
  1. aswandi, apa kabar, gimana kelas 2.2 dan 3 ipa 2, slamat ya, ingat pelatihan di unsri dengan pengajar dari korea, minta no. hp banyak yang mau saya tanya, see uu

  2. hehehe, klo saya ketiga2nya dikerjakan sendiri ..

    tp klo cuman web kecil2an pak 😀

    syukron sharingnya 🙂

  3. kak“ pa sj seh aplikasi pembuat website,,, truz klo aplikasi yg utk membuat aplikasi itu ada ngak????

  4. wah,masih belum jelassssssss

  5. kasih tau caranya bikin dari awak dong pak soalnya banyak yang gak jelas,wkwkwkwk jelasin ya pak kalau perlu postingin aplikasininya bos

  6. hahahahahahaha
    gw suka ide lo

  7. wah berarti harus ada tim yah utk pembuatan website nya ? :). klu merangkap semua 1 org ada gak ya..

  8. bang ada progaram lain ga dalam membuatnya selain program yang ada di atas…thx

  9. ini tulisan saya 6 thn yg lalu, skr utk buat web sangat mudah, pakai wordpress aja, langsung jadi. tinggal update konten

  10. NTT Membutuhkan Pemimpin Baru

    Dalam kehidupan praksis, politik telah memiliki suatu image yang buruk di hadapan masyarakat secara keseluruhan. Tingkat valuasi yang dimiliki masyarakat terhadap politik sebagai sesuatu yang buruk ini sebenarnya bisa dikatakan sebagai akumulasi dari banyak ketidak-puasan terhadap banyak hal yang mencuat dari setiap rangkaian yang dihasilkan oleh politik itu sendiri. De facto, tingkat valuasi dari masyarakat sebenarnya tidak boleh diarahkan ke pada politik. Mengapa? Politik secara akar kata sejak diadakan oleh pencipta kata tersebut telah eksist dengan hal-hal yang mengarah kepada moralitas bertindak (action morality) atau pun etika berpikir yang positif. Politik harus bertindak untuk mengasilkan hal-hal yang berdaya guna, berdaya damai, berdaya mensejahterakan, berdaya harmoni dan etika perpikir berdaya bijaksana (wise), berdaya membangun (building). Bukannya, performance yang perlu dibiarkan adalah non – moralitas bertindak atau non – etika berpikir yang positif.
    Secara kontradiktif, tingkat valuasi yang perlu dipikirkan dan diarahkan oleh masyarakat banyak adalah figur dan bukannya politik itu sendiri karena telah dikatakan di atas bahwa politik itu sebenarnya diadakan untuk hal-hal yang baik atau positif. Mengapa figur? Figur adalah pelaku utama dari setiap olah tindakan dan olah berpikir yang bisa mengahsilkan image. Sedangkan politik hanyalah kata yang dimainkan oleh figur. Sehingga alur yang bisa dihasilkan untuk sebuah tingkat valuasi adalah harus mengarah kepada figur. Politik akan berdaya valuasi positif jika figur sebagai pelaku utama memainkan politik itu secara moralitas bertindak (action morality) atau pun etika berpikir yang positif.
    Mencermati situasi politik Pasca Pilgub NTT sampai dengan hasil pleno penetapan dari KPU terhadap dua kandidat yang akan bertarung dalam putaran kedua. Banyak masyarakat akar rumput (grass root) telah digiring ke dalam konsep politik yang bernuansa sesat dan tidak berdaya edukatif. Bisa dikatakan bernuansa sesat dan tidak berdaya edukatif karena masyarakat akar rumput (grass root) dicuci otaknya(washing brain) akan hal-hal yang bernuansa SARA (Suku Agama Ras Asal).
    Bukan saatnya atau bukan masanya lagi politik perlu ditempatkan pada nuansa SARA. Masyarakat akar rumput (grass root) telah menekankan logika untuk memilih dan memilah opsi atas siapa yang perlu dipilihnya. Logika memilih dan memilah telah menjadi acuan dan bukannya emosional sebagai suatu format dasar dan baku yang dipikirkan oleh masyarakat akar rumput (grass root). Boleh dibilang masyarakat akar rumput (grass root) telah pintar untuk menilai apa yang baik atau tidak baik, dan apa yang benar atau tidak benar atas pilihannya. Masyarakat akar rumput (grass root) telah pintar untuk membuat opsi tanpa perlu diberi satu ribu untuk membujuk lalu dengan sendirinya telah membeli harga dirinya secara penuh. Contoh perbandingan adalah masyarakat akar rumput (grass root) di wilayah Jakarta lebih memilih JOKOWI tanpa melihat latar belakang dirinya. Untuk itu, seluruh masyarakat akar rumput (grass root) NTT perlu belajar dari contoh ini.
    Tentunya seluruh masyarakat akar rumput (grass root) menginginkan hal-hal yang baik, positif dari figur dua kandidat yang akan bertarung dalam Pilgub NTT ( Esthon-Paul dan Frenly). Esthon – Paul sebagai figur yang balance dalam periode mendatang akan mampu mengubah citra NTT yang tidak perlu dipandang sebelah mata. Sebagai seorang birokrat, pribadi Esthon akan menata pemerintahan NTT secara transparan, bijak, adil dan merata tanpa syarat KKNK (Korupsi Kolusi Nepotisme dan Koncoisme). Sebagai seorang ahli Pariwisata, pribadi Paul akan menata wajah NTT menjadi elok dan indah dipandang mata. Yang dengan sendirinya perpaduan kedua pribadi ini akan membawa NTT menjadi wilayah yang mampu mensejahterakan seluruh masyarakat NTT. Dengan suatu kalimat afirmatif, yang berada di wilayah Flores sebagai wilayah yang berdedikasi politik yang tinggi dan bermartabat tak akan melihat figur Esthon dari unsur SARA-nya (Suku Agama Ras Asal) tetapi melihat Esthon sebagai suatu figur yang mampu membangun NTT secara bijak, adil dan merata.
    Tentunya, seluruh masyarakat akar rumput (grass root) NTT pun dari Sumba, Flores, Alor, Rote, Sabu dan Timor telah belajar dari situasi-situasi lalu yang masih terkondisi hingga saat ini. Pembelajaran ini perlu dilihat secara jeli, teliti dan cermat untuk membuat suatu perubahan untuk tidak menyesali satu pilihan yang salah untuk jenjang waktu yang lama. Mari kita dukung Esthon-Paul sebagai pasangan figur terkhusus putra daerah NTT untuk menuju NTT yang baru dalam segala hal.

    Penulis:mantan aktivis malang dan pemerhati politik yang tinggal di kefamenanu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aswandi Blog © 2015 Frontier Theme