Posted on

Aku lagi di desa trans (transmingrasi) dimana disana banyak pendatang dari Jawa dan Sulawesi. Sedangkan penduduk asli dari suku melayu tidak begitu banyak. Kalo saya lihat orang jawa banyak menguasai lembaga pemerintahan, seperti kades, kadus, camat, dll. Sedangkan orang bugis menguasai perekonomian,terbukti dengan hampir semua warung, toko, kapal niaga dimiliki oleh orang bugis. Kedua orang tua saya sendiri adalah orang bugis dan beliau bekerja sebagai pedagang dan petani kelapa.

Adat bugis cukup kental disana. Sanak famili saya kebanyakan mempunyai prinsip kalo mau kawin, harus dengan sesama orang bugis. Dan dianggap durhaka kalo sampai anaknya kawin dengan suku lain. Kasian juga ngelihatnya, waktu itu ada seorang pemuda bugis yang melamar gadis dari suku melayu. Orang tua pemuda tersebut sangat tidak setuju, tapi pemuda tsb tetap ngotot. Akhirnya mereka berdua tetap menikah walaupun kedua orang tua pemuda tersebut tidak menghadirinya. padahal masih dalam 1 desa.

Untunglah orang tuaku pemikirannya sedikit maju, dia tidak mempermasalahkan anaknya nikah dengan suku lain asal beragama Islam dan taat. Mungkin untuk yang pertama kalinya dalam sanak keluarga, orang tuaku merestui dan menghadiri pernikahan kakak saya dengan gadis dari sunda (di Sumedang), dan yang lebih menghebohkan lagi adik saya (cewek) nikah dengan pemuda dari Jepang. Dan orang tuaku merestui saja asal pemuda jepang tersebut masuk Islam. Alhamdulillah, kini saya mempunyai keponakan kecil bernama yashusi Togawa. 🙂

One Reply to “Orangtuaku yang sangat aku banggakan (1)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *